MY BLOG IN YOUTUBE

Loading...

Rabu, 03 Oktober 2012

Masa Prenatal ( Sebelum Kelahiran )



            Masa prenatal merupakan masa yang sangat terpenting sebelum kelahiran seorang bayi. Di masa prenatal ini akan sangat berpengaruh pada pembentukan otak dan kesehatan bayi. Masa ini berlangsung selama kurang lebih Sembilan bulan.
Saat ini banyak bukti yang menunjukan bagaimana kondisi-kondisi dalam lingkungan prenatal dapat dan sungguh mempengaruhi perkembangan prenatal. Bukti ini membenarkan bahwa mempelajari perkembangan sebaiknya dimulai dari saat pembuahan dan bukan dimulai dari saat kelahiran.
Dalam bab ini diusahakan untuk menjelaskan hal-hal pokok yang terjadi selama Sembilan bulan sebelum kelahiran, untuk menekankan pentingnya saat pembuahan dan untuk menunjukan factor-faktok psikologis jalannya perkembangan.
 
A.    PERKEMBANGAN MASA INTRAUTERINE ( PRENATAL )
Konsepsi dan Awal Kehidupan Periode Prenatal (masa sebelum lahir) adalah Periode awal perkembangan manusia yang dimulai sejak konsepsi, yakni ketika ovum wanita dibuahi oleh sperma laki-laki sampai dengan waktu kelahiran seorang individu. Masa ini pada umumnya berlangsung selama 9 bulan kelender atau sekitar 270-280 hari sebelum lahir. (Adaptasi Desmita 2008 dan Hurlock 1980) PERIODE PRENATAL
1.      Tahap Perkembangan Pra Kelahiran
Periode pra kelahiran (pre natal period) mulai pada saat pembuahan (konsepsi) dan berakhir pada saat kelahiran (kira-kira 38 minggu). Selama perkembangan pra kelahiran, manusia mengalami perkembangan yang sangat cepat dalam kehidupannya. Saat ini ilmuwan membagi perkembangan pra kelahiran (tahap perkembangan embrio) dibagi tiga periode utama : 1) tahap germinal (dari pembuahan sampai dua minggu), 2) tahap embrio (dua sampai delapan minggu), dan 3) tahap fetus (dua sampai sembilan bulan).
Bayi dalam perut ibu dapat dikatakan berada di tempat yang aman dan kokoh, yang memungkinkan untuk tumbuh dalam keadaan relatif aman dari serangan dunia luar, dengan asupan makanan yang terpenuhi dari ibunya. Yang dimaksud tempat yang aman dan kokoh tadi adalah rahim (uterus). Rahim merupakan ruang kosong yang berotot dan kuat dengan berat sekitar 50 gram. Struktur ini belum cukup untuk seorang bayi yang sedang berkembang. Dengan demikian, struktur rahim akan mengalami perubahan selama kehamilan. Ukuran rahim akan berkembang berangsur-angsur meningkat sampai 1.100 gram pada akhir kehamilan.
Jika dibahas dalam tiga tahap (tahap germinal, tahap embrio, dan tahap fetus), maka perkembangan bayi tersebut adalah sebagai berikut :
a.       Tahap Germinal (pra-embrionik)
Tahap germinal atau pra embrionik merupakan awal dari kehidupan manusia. Proses ini dimulai ketika sperma melakukan penetrasi terhadap telur dalam proses pembuahan, yang normalnya terjadi akibat hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan. Pada tahap ini zigot dibentuk.
Zigot terbentuk dari campuran sperma dan sel telur (“tetesan yang bercampur”). Sel telur yang telah dibuahi, atau zigot, bergerak ke bawah tuba falopi menuju rahim. Pergerakan ini membutuhkan waktu selama empat hari. Selama pergerkaan ini, zigot yang semula berupa satu sel, melalui proses mitosis membelah menjadi dua sel identik. Pembelahan ini terjadi setiap sekitar 30 jam. Dalam proses pembelahan ini, bayi masih disebut dengan blastocyte (Blastula), yang terdiri dari 100 sel. Bagian luar blastocyte akan menjadi placenta, sedangkan bagian dalam akan menjadi embrio.
Pada minggu kedua, bayi terdiri dari sekitar 150 sel. Placenta mulai terbentuk, bagian dalam sel memadat dan berkembang menjadi tiga lapisan yang disebut piringan embrionik (embryonic disc), yang terdiri dari lapisan ectoderm, mesoderm, dan endoderm. Dalam proses diferensiasi, sel pada masing-masing lapisan berkembang menjadi jaringan dan organ tubuh. Sel dari lapisan terluar (ectoderm atau ectoblast) membentuk otak, tulang belakang, indera peraba, dan lensa mata. Juga lapisan epidermis (enamel gigi, kulit, rambut, kuku). Lapisan paling dalam, disebut endoderm (endoblast), nantinya akan berkembang menjadi sistem pernafasan dan pencernaan, juga berbagai kelenjar seperti pankreas, hati, thyroid, dan thymus. Diantara kedua lapisan tersebut terdapat lapisan tengah atau mesoderm. Lapisan ini akan menjadi tulang dan cartilage, sistem buah pelir dan genitalia dan juga bagian luar akan menutupi organ internal.
b.      Tahap Embrio
Tahap kedua, yang disebut tahap embrio, berlangsung lima setengah minggu. Tahap embrio mulai ketika zigot telah tertanam dengan baik pada dinding rahim. Dalam tahap ini, sistem dan organ dasar bayi mulai terbentuk dari susunan sel. Meskipun bentuk luar masih jauh berbeda dibandingkan manusia dewasa, beberapa bentuk seperti mata dan tangan, bahkan telinga dan kaki mulai dapat dikenali.
Seperti lintah menghisap darah ke kulit, kluster sel (embrio) manusia menghisap darah dari dinding rahim (endometrium) yang mengalami kehamilan. Tak terhitung banyaknya embrio yang berusia 23-24 hari bertindak seperti lintah semula. Embrio pada tahap ini hanya dapat terlihat dengan bantuan mikroskop. Setelah itu, baru pada awal minggu keempat, embrio dapat dilihat oleh mata telanjang.
Sel throphoblast pada lapisan luar kluster sel melakukan sekresi enzim yang disebut hyaluronidase. Enzim ini akan menghancurkan lapisan asam (hyaluronic acid) pada jaringan dinding rahim. Sel throphoblast juga bertanggung-jawab dalam membentuk placenta sebagai penyangga antara embrio dan darah ibu. Diantara placenta dan bayi terdapat tiga pembuluh darah yang dalam perkembangannya akan menjadi mirip tali panjang yang disebut tali pusar (umbilical cord). Salah satu pembuluh ini disebut umbilical vein yang berfungsi untuk mengangkut darah yang berisi sari makanan dan oksigen dari placenta kepada bayi. Dua saluran lain disebut umbilical arteri yang bermanfaat untuk melakukan transportasi darah yang berisi karbondioksida dan pembuangan yang dihasilkan oleh makanan dari bayi ke placenta.
Pada awal minggu ketiga, embrio manusia terlihat seperti “segumpal daging” yang terbungkus, yang terus melakukan pembelahan untuk perkembangan selanjutnya. Pada akhir minggu keempat, mulai terlihat perluasan yang mirip cetakan gigi, yang nantinya akan berkembang menjadi organ dan anggota tubuh yang lengkap. Jika kita mengikuti perkembangan embrio, kita akan menemukan setelah empat minggu, proses diferensiasi mulai terjadi dimana sekelompok sel di dalam embrio mengubah dirinya menjadi bentuk organ tertentu yang lebih besar. Salah satu struktur awal yang terbentuk dalam tahap ini adalah cartilaginous yang merupakan dasar tulang kerangka manusia (dalam beberapa bulan kemudian cartilage mengeras dan menguat). Ini kemudian diikuti dengan munculnya cikal bakal organ lain, termasuk otot, telinga, mata, ginjal, jantung, dan lain-lain.
Periode embrio biasanya dianggap sebagai waktu yang kritis karena bentuk fisik yang saat itu berkembang pesat dapat terganggu oleh kondisi yang kurang baik dalam lingkungan prenatal.
c.       Tahap Fetal
Memasuki tahap ketiga dari kehamilan, embrio disebut fetus. Tahap ini berlangsung sekitar 30 minggu, mulai dari minggu ke delapan kehamilan dan berakhir sampai saat lahir. Dalam tahap ini, wajah, tangan, dan kaki fetus mulai terlihat berbeda dan fetus tampak dalam bentuk manusia. Selain itu, otak juga telah terbentuk, dan mulai menjadi lebih kompleks dalam beberapa bulan.
Pada minggu awal perkembangan tahap fetal ini, kebanyakan organ dan  jaringan utama telah dibentuk. Bentuk wajah telah terbentuk dengan baik. Lobang telinga mulai terbentuk. Perkembangan mata juga terlihat hampir penuh, meski selaput mata masih tertutup dan tidak akan terbuka sampai minggu ke-28. Tangan, lengan, kaki, paha dan jari jemari telah terbentuk penuh. Fetus dapat membentuk tinju dari jari-jemarinya. Kuku mulai terbentuk dan bakal gigi mulai berkembang pada daging mulut, jantung telah hampir berkembang penuh, dan detak jantung telah dapat didengar dengan mesin Doppler. Sel darah merah mulai diproduksi dalam hati. Testosterone (hormon seks laki-laki) telah diproduksi pada testes fetus laki-laki.
Baru pada trimester kedua (minggu ke 13-16), otak telah bekrembang penuh. Fetus dapat menghisap, mengunyah, dan membuat suara nafas yang belum teratur. Fetus juga sudah dapat merasakan sakit. Kulit fetal masih transparan. Jaringan otot memanjang dan tulang semakin kuat. Hati dan organ lain memproduksi cairan yang dibutuhkan. Alis dan garis mata muncul. Fetus sangat aktif bergerak, termasuk menendang bahkan jungkir balik.
Pada minggu ke dua puluh, gerakan bayi biasanya telah dapat dirasakan pada perut ibu. Kuku tangan dan jari kaki telah muncul. Lanugo, bulu halus pada bayi menutup seluruh tubuh. Fetus dapat mendengar dan mengenali suara ibu. Alat kelamin dapat dilihat dengan menggunakan ultrasound.
Pada trimester ketiga zat lilin pelindung yang disebut vernix menutupi kulit. Pada kelahiran, vernix umumnya akan hilang dan sisanya akan dengan cepat diesrap. Fetus telah memulai refleks terkejut pada tangannya. Sidik jari pada kaki dan tangan mulai terbentuk. Fetus mulai berlatih pernafasan dengan menghirup cairan amniotic pada paru-parunya yang sedang berkembang.
Pada minggu ke-25 sampai 28 perkembangan otak yang cepat terjadi dan sistem saraf mampu mengontrol fungsi tubuh. Kelopak mata fetus dapat membuka dan menutup. Pada minggu ke-29 sampai 32, terdapat pertambahan jumlah lemak pada tubuh fetus. Ritme pernafasan telah terjadi, namun paru-paru belum matang. Fetus tidur 90-95% tiap harinya.
Pada sekitar minggu ke-38 atau ke-40, fetus telah cukup umur. Lanugo mulai hilang kecuali pada lengan atas dan bahu. Rambut bayi pada saat itu mulai menebal. Paru-paru sudah matang. Berat rata-rata bayi pada saat kelahiran sekitar 2,5 – 3,5 kg. Pada waktu lahir placenta yang melekat pada rahim dan umbilical cord akan dipotong begitu pertama kali bayi bernafas dari udara. Pernafasan akan memicu jantung dan arteri bekerja menekan darah melalui paru-paru.
Periode paling penting dalam masa prenatal trimester pertama kehamilan pada periode ini pertumbuhan otak janin sangat peka terhadap lingkungan janin. gizi kurang pada hamil, infeksi, merokok, asapa rokok, minuman beralkohol, obat-obat, bahn toksin, factor psikologi seperti kekerasan pada ibu hamil, dapat menimbulkan pengaruh buruk pada pertumbuhan janin dan kehamilan.
B.     Ciri-ciri Periode Pranatal
Periode ini yang muilai pada saat pembuahan dan berakhir pada kelahiran, kurang lebih panjangnya 270-280 hari atau 9 bulan. Meskipun re;latif singkat, periode prenatal memiliki 6 ciri penting antara lain :
1.      Pada saat ini sifat-sifat bauran, yang berfungsi sebagai dasar bagi perkembangan selanjutnya, diturunkan sekali untuk selamanya. Sementara itu kondisi-kondisi yang baik atau tidak baik, baik sebelum maupun sesudah kelahiran sampai tingkat tertentu, dapat dan mungkin mempengaruhi sifat-sifat fisik dan psikologis yang membentuk sifat bawaan ini, perubahan-perubahan yang terjadi bersifat kuantitatif dan bukan kualitatif.
2.      Kondis-kondisi yang baik dalam tubuh ibu dapat menunjang perkembangan sifat bawaan sedangkan kondisi yang tidak baik dapat menghambat perkembangannya bahkan sampai mengganggu pola perkembangan yang akan datang.
3.      Jenis kelamin individu yang baru diciptakan sudah dipastikan pada saat pembuahan dan kondisi-kondisi dalam tubuh ibu tidak akan mempengaruhinya, sama halnya dengan sifat bawaan. Kecuali kalau dilakukan pembedahan dalam operasi perubahan kelamin, jenis kelamin individu yang sudah ditetapkan pada saat pembuahan tidak akan berubah.
4.      Perkembangan dan pertumbuhan yang normal lebih banyak terjadi selama periode pranatal dibandingkan pada periode-periode lain dalam seluruh kehidupan individu. Selama 9 bulan sebelum kelahiran, individu tumbuh dari sel kecil yang tampak dari mikroskop menjadi bayi yang panjangnya sekitar 20 inci dan beratnya rata-rata 7 pon. Diperkirakan bahwa selama masa itu berat badan bertambah 11 juta kali. Demikian pula, halnya dengan perkembangan yang kelihatannya berlangsung begitru cepat. Dari sebuah sel berbentuk bulat pada masa itu berkembanglah setiap anggota tubuh manusia, baik ekstrernal maupun internal.
5.      Periode prenatal merupakan masa yang mengandung bahaya, baik fisik maupun psikologis. Meskipun tidak dapat di klaim bahwa periode ini merupakan periode yang paling berbahaya dalam seluruh rentan kehidupan.
6.      Periode pranatal merupakan saat dimana orang-orang yang berkepentingan membentuk sikap-sikap pada diri individu yang baru diciptakan. Sikap-sikap ini akan sangat mempengaruhi cara bagaimana individu-individu ini diberlakukan, terutama selama tahun-tahun pertama pembentukan kepribadiannya.
C.    Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Kehamilan
Lingkungan dapat mempengaruhi kondisi kehamilan. Faktor eksternal merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi proses kehamilan.
                  Para ahli psikologi perkembangan yang membahas mengenai perkembangan manusia selalu mengkaitkan istilah nature dan nurture. Dimana setiap perkembangan manusia dipengaruhi oleh interaksi dari kedua hal tersebut.
                  Konsep nature muncul dipengaruhi oleh aliran filsafat barat yang dikemukakan oleh Jean Jacquess Rousseau (dalam Stumpf, 1999). Ia menyatakan bahwa faktor-faktor alamiah mempengaruhi perkembangan kehidupan manusia. Istilah nature mengandung pengertian faktor-faktor alamiah yang berhubungan dengan aspek bio-fisiologis terutama keturunan, genetis dan herediter. Perkembangan manusia sangat dipengaruhi oleh faktor keturunan. Sifat-sifat, maupun kepribadian yang dimiliki oleh orang tua akan diturunkan melalui unsur gen kepada anak-anaknya. Bukan hanya yang bersifat fisiologis seperti: berat badan, tinggi badan , warna kulit, rambut, jenis penyakit, akan tetapi juga karakteritik psikologis yang menyangkut tipe, kepribadian, kecerdasan, bakat, kreativitas, dan lain-lain.
Sedangkan konsep nurture dipengaruhi oleh aliran filsafat empirisme yang dikemukakan oleh Jhon Locke. Melalui teori tabula rasa, Locke mengatakan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan suci, bagaikan kertas putih yang masih bersih, ia percaya bahwa baik dan buruknya perkembangan hidup manusia tidak dilepaskan  dari pengaruh lingkungannya.  Konsep nurture merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan lingkungan eksternal, seperti: pola asuh, pendidikan, sosial budaya, media masa, status sosial ekonomi, agama, dan sebagainya. Seorang individu akan berkembang menjadi orang dewasa yang baik, mandiri, cerdas, dan bertanggung jawab, apabila ia berada dalam lingkungan hidup yang mendukung perkembangan tersebut. Lingkungan hidup yang buruk akan menyebabkan individu berkembang menjadi seorang pribadi yang tidak baik, bodoh, jahat, dan sebagainya.

a. Genetis
Pertumbuhan setiap indivividu sudah terprogam sejak masa konsepsi yang dipengaruhi oleh faktor genetis. Perubahan panjang, tinggi, berat badan bayi akan terjadi secara otomatis karena pengaruh genetika (keturunan). Faktor keturunan lebih menekankan pada aspek biologis atau herediter yang dibawa melalui aliran darah dalam kromosom. Faktor genetis cenderung bersifat statis dan merupakan predisposisi untuk mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan seseorang. Kalau sejak awal orang tua memiliki karakteristik fisiologis yang sehat, maka akan menurunkan generasi yang sehat pula. Sebaiknya bila orang tua tidak sehat, maka keturunanya pun akan mengalami gangguan atau penyimpangan secara fisik atau psikis (Papalia, Old & Fieldman, 1998: 2004).
Para ahli Psikologi perkembangan (Papalia dkk, 1998; Santrock, 1999; Helms & Turner, 1995; Haris & Liebert, 1991) mengakui bahwa aspek fisik maupun psikis seorang individu sangat dipengaruhi oleh unsur genetis, karakteristik tersebut akan nampak pada hal-hal sebagai berikut :
1)   Sifat- sifat Fisik
Sifat-sifat fisik yang dapat diturankan secara genetis misalnya wajah, tangan, kaki atau bagian-bagian organ tubuh lainnya. Hal ini dapat terjadi pada anak tunggal maupun kembar. Bila orang tua memiliki suatu jenis penyakit tertentu seperti: tekanan darah tinggi, penyakit jantung, epilepsi, atau paru-paru, kemungkinan besar anak-anak yang dilahirkan pun mempunyai resiko terserang penyakit yang sama.
2)   Intelegensi
Kecerdasan yang dimilki orang tua akan dapat menurun pada anak-anaknya. Meskipun anak-anak tersebut diasuh oleh orang tuanya sendiri maupun oleh orang lain, sifat kecerdasan orang tua akan tetap menurun. Pandangan ini dipengaruhi oleh pemikiran filsuf naturalis dari Perancis, J.J. Rousseau yang mengatakan bahwa anak cerdas dihasilkan dari orang tua yang cerdas (Stump, 2000).
3)   Kepribadian
Kepribadian merupakan organisasi dinamis dari aspek fisiologis, kognitif maupun afektifyang membantu pola prilaku individu dalam rangka menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya (Hall, Lindsay & Campbell, 1998). Sebagai organisasi yang dinamis, maka kepribadian akan mempengaruhi perubahan pola pemikiran, sikap, dan perilaku seseorang.
Selain dipengaruhi oleh faktor interaksi dengan lingkingan hidupnya, kepribadian dipengaruhi pula oleh faktor genetis yang dibawa sejak lahir. Dalam berbagai penelitian yang dilakukan oleh ahli psikologi perkembangan ditemukan bahwa baik kepribadian yang normal ataupun abnormal, pada dasarnya, diturunkan dari kedua orang tuanya.

b. Lingkungan
Lingkungan memiliki peran yang besar bagi perubahan yang positif atau negatif pada individu. Lingkungan yang baik tentu akan membawa pengaruh positif bagi individu, sebaliknya lingkungan yang kurang baik akan cenderung memperburuk perkembangan individu.
Seorang psikolog ekologis, Urie Brofenbrenner (dalam Papalia, Olds & Feldman, 2004) menyatakan bahwa lingkungan tersebut bersifat stratifikasi yakni berlapis-lapis dari yang terdekat sampai yang terjauh. Pengaruh lingkungan menjadi lebih kuat pada periode sensitif. Masing-masing pertumbuhan system organ atau anggota tubuh memiliki periode sensitif yang rentan terhadap pengaruh lingkungan.
Berbagai faktor eksternal tidak hanya dapat menyebabkan keguguran, namun juga ketidaksempurnaan dari bayi yang dikandung. Penelitian ilmiah menunjukan bahwa faktor eksternal atau lingkungan dapat mempengaruhi perkembangan pra kelahiran dan juga proses kelahiran. Agen eksternal yang dapat mempengaruhi ini disebut dengan teratogen. Teratogen adalah segala virus, obat-obatan, zat kimia, radiasi, atau agenlingkungan lain yang dapat membahayakan perkembangan embrio atau janin hingga menyebabkan kerusakan fisik, kebutaan, kerusakan otak, dan bahkan kematian. Selain teratogen, kondisi emosional ibu, asupan gizi dan usia ibu juga dapat mempengaruhi kehamilan.
Karena itu, para ahli psikologis maupun medis berusaha keras untuk mengatasi dan membantu perawatan pada wanita hamil. Hal ini pun tak lepas dari peran dan tanggung jawab dari calon ayah dan calon ibu untuk bekerja sama menjaga kualitas pertumbuhan dan perkembangan bayi yang sehat secara fisiologis maupun psikologis.
c. Interaksionisme antara Genetis dan Lingkungan
Untuk mencari titik temu perbedaan yang mencolok dari dua pandangan diatas, maka para ahli kemudian memadukan keduanya, sehingga terjadilah interaksi. Perpaduan antara faktor genetis dan faktor lingkungan menyatakan bahwa perkembangan seseorang tidak akan maksimal kalau hanya mengadalkan salah satu faktor saja. Karena itu, keduanya harus digabungkan untuk mengupayakan maksimalisasi perkembangan seseorang. Faktor genetis harus ditopang dengan faktor lingkungan dan faktor lingkungan harus memperoleh dukungan faktor genetis, sehingga memungkinkan perkembangan yang baik dan normal baik fisiologis maupun psikologis.
3. Upaya-upaya Mengatasi Ketidakteraturan Perkembangan Masa Prenatal
      Masa hamil merupakan masa penting yang harus diperhatikan secara serius. Keteledoran dalam perawatan terhadap bayi dalam kandungan akan membawa dampak buruk bagi perttumbuhan dan perkembangannya di kemudian hari. Setiap kondisi yang tidak baik selama periode kehamilan akan mempengaruhi perkembangan anggota-anggota tubuh dan seluruh pola perkembangan janin.
Adapun hal-hal penting yang harus diperhatikan dan dilakukan pada kehamilan antara lain:
a.       Asupan Nutrisi dan Gizi
Pemenuhan kebutuhan makanan sehat yang mengandung nutrisi, gizi, vitamin, protein, dan mineral selama kehamilan adalah mutlak dan tak dapat ditunda-tunda lagi. Bayi-bayi yang dilahirkan dari orang tua yang memperhatikan masalah ini ternyata membawa pengaruh positif. Ia menjadi bayi yang sehat, cerdas, lincah, dan mudah bergaul. Sebaliknya ibu yang selama hamiltak mau dan tak mampu memenuhi kebutuhannutrisi, ternyata menyebabkan bayi lahir premature, berat kurang dari 2500 gram, mengalami gangguan pernapasan, sulit bergaul dan taraf intelegensinya rendah (Berk, 1991:1993, Hetherington & Parke, 1999).
b.      Prilaku Hidup Sehat
Semasa hamil, seorang wanita hendaknya tak terlibat dalam penggunaan obat-obatan, kecuali dalam keadaan sakit yang memerlukan pengawasan medis dari dokter. Kelalaian dalam memperhatikan kondisi kehamilan yang disebabkan oleh penggunaan narkoba (narkotik dan obat-obat terlarang lainnya) akan membawa dampak negatif bagi bayi yang dilahirkan. Calon ayah juga diharapkan tidak mengkonsumsi alkohol, obat-obatan terlarang atau merokok agar tidak mempengaruhi kehamilan istrinya. Orang tua yang kecanduan narkoba akan menyebabkan kelahiran bayi prematur, keguguran, kematian bayi, intelegensi rendah, bahkan mengalami retandasi mental (Papalia, Olds & Feldman, 1998)
c.       Konseling Pra Pernikahan
Konseling ini bertujuan untuk memepersiapkan calon pasangan suami-istri yang akan menghadapi berbagai masalah perkawinan, memelihara dan merawat anak, memenuhi kebutuhan ekonomi, dan melakukan komunikasi efektif antara suami istri.
Agar memperoleh keturunan yang sehat dan normal, maka kegiatan atau konseling menjadi sangat penting untuk diperhatikan dan dilakukan oleh setiap calon pasangan suami istri yang akan menikah.
d.      Konseling Genetik
Konseling genetik yaitu suatu konseling yang dilakukan agar mendapatkan kelahiran anak-anak yang sehat dan normal, serta menghindari kelahiran cacat fisik maupun cacat mental. Konseling sudah dilakukan di negara-negara maju seperti Jepang, Jerman, Kanada, Australia, dsb. Cara ini mencakup telaah yang luas dan terinci mengenai riwayat kesehatan suami maupun istri untuk menentukan apakah ada, kapan, dan dalam bentuk apa abnormalitas fisik atau mental yang terdapat dalam keluarga mereka. Kalau penelitian riwayat kesehatan menunjukkan atau menyimpulkan bahwa terdapat beberapa abnormalitas genetik dalam keluarga suami atau keluarga istri, atau kalau salah satu anak dalam keluarga mempunyai kondisi yang berasal dari keturunan dan dari pengalaman lingkungan, orang tua diberitahu tentang kemungkinan mempunyai anak cacat dan disarankan untuk menggunakan teknik-teknik keluarga berencana untuk mencegah kehamilan. Kalau kehamilan sudah terjadi, mereka disarankan untuk mempertimbangkan abortus/pengguguran.
C. Masa Melahirkan
Melahirkan bayi merupakan bagian yang harus dilalui oleh seorang wanita normal dalam kehidupan pernikahannya. Dari sekian banyak episode dalam kehidupan seorang wanita yang paling agung adalah menjadi seorang ibu. Dengan melahirkan, seorang wanita benar-benar akan merasakan dan menyadari kodrat kewanitaannya. Walaupun harus menahan rasa sakit, proses melahirkan merupakan tantangan dan kewajiban yang harus dialami.
1. Cara-cara melahirkan bayi
Ada lima jenis proses melahirkan bayi menurut para ahli psikologi perkembangan maupun kedokteran (Papalia, Olds dan Feldman, 2004; Hurlock, 1978), yaitu :
a.       Melahirkan secara alamiah
Melahirkan secara alamiah ialah proses melahirkan seorang bayi secara normal, spontan atau tanpa bantuan operasi medis. Kelahiran normal ditandai dengan posisi kepala bayi dalam rahim siap untik masuk vagina. Kelahiran secara alamiah ini biasanya dilakukan oleh para wanita yang memiliki kehamilan normal dengan postur fisik yang memungkinkan dapat menjalani kelahiran alamiah.
Melahirkan secara normal akan meningkatkan ketangguhan pada anak, karena bayi telah menghadapi stressor pada saat proses kelahirannya. Ini akan terbawa oleh individu sampai tumbuh menjadi anak-anak, remaja maupun dewasa.
b.      Melahirkan dengan operasi Caesar
Proses melahirkan yang dilakukan dengan bantuan operasi medis yang disebabkan oleh kondisi tubuh bayi yang terlalu besar dan cenderung sulit bila harus melahirkan melalui saluran vagina.
Tekhnik melahirkan ini dilakukan guna menolong para wanita yang tak mampu melahirkan secara alamiah, atau kalau melahirkan secara normal akan menimbulkan resiko bagi keselamatan ibu maupun bayinya. Seringkali para dokter maupun bidan yang menangani cara operasi ini menghadapi suatu dilemma, apakah harus memprioritaskan keselamatan ibu atau bayinya, bila masalah yang dihadapi sangat pelik.
c.       Melahirkan dengan alat
Cara melahirkan bayi yang harus dibantu dengan alat-alat khusus. Kelahiran ini terjadi karena disebabkan oleh ukuran bayi yang terlalu besar dan tidak memungkinkan bayi untuk lahir secara normal. Ada kalanya seorang dokter menggunakan alat untuk mengeluarkan kepala bayi dari rahim, kemungkinan bayi akan mengalami luka dan perlu perawatan khusus.
d.      Melahirkan sungsang
Merupakan kelahiran bayi yang tidak normal yang disebabkan oleh posisi bayi yang terbalik, sungsang sehingga kaki keluar terlebih dahulu dan diakhiri dengan bagian kepala. Cara melahirkan seperti ini juga memerlukan bantuan alat-alat khusus yang dikerjakan oleh dokter atau bidan.
e.       Melahirkan dengan posisi bayi melintang
Suatu kelahiran bayi dengan posisi bayi masih berada dalam posisi melintang dalam rahim ibu dan belum berubah, dimana kepala bayi tidak masuk ke dalam saluran vagina. Maka diperlukan alat khusus untuk membantu kelancaran kehamilan bayi tersebut.
Tak tertutup kemungkinan seorang wanita hamil mengalami kesulitan dalam proses melahirkan, sehingga ia memerlukan perawatan intensif dari tenaga dokter. Dokter biasanya bertindak bijaksana dan hati-hati agar dapat menyelamatkan sang bayi maupun ibunya.
Sebagian besar wanita akan merasakan kesakitan ketika sedang melahirkan seorang bayi. Oleh karena itu, harus diperhatikan bagaimana mempersiapkan diri menghadapi proses kelahiran bayi agar berjalan dengan baik dan lancar.
Menurut Papalia, Olds dan Feldman (1998; 2004), ada empat tahap yang harus dijalani oleh seorang wanita yang akan melahirkan, yaitu :
Kontraksi otot-otot perut. Terjadinya kontraksi otot-otot pada bagian perut dan dirasakan sangat sakit oleh wanita. Hal ini juga menyebabkan proses pembukaan pada vagina sebagai sarana saluran kelahiran bayi.
Kontraksi otot disertai dengan gerakan kepala bayi ke saluran vagina.Dokter atau bidan akan memeriksa dan menyatakan adanya proses pembukaan pada vagina, diikuti dengan upaya kepala bayi bergerak maju menuju ke saluran kelahiran. Ini sebagai tanda kelahiran bayi semakin mendekat.
Pemotongan plasenta. Keluarnya bayi dari rahim dan vagina akan disertai dengan plasenta dan tali pusat. Bayi menangis sebagai tanda rasa shock, terkejut, dan penyesuaian pertama bayi ketika berada si luar rahim ibunya.
Masa pemulihan. Setelah tali pusat (pusar) dipotong oleh bidan atau dokter, kemudian bidan atau dokter berusaha untuk memulihkan kondisi rahim agar menjadi normal kembali. Kegiatan pemulihan akan makin cepat dirasakan oleh seorang ibu bila memperoleh dukungan dan perhatian dari keluarganya.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ukuran Kelahiran Bayi
Para ahli kedokteran, gizi, maupun psikologi berpendapat bahwa ada enam faktor yang mempengaruhi ukuran kelahiran bayi (Hurlock, 1978; Santrock, 1999), yaitu:
a.       Waktu Masa Kehamilan
Janin yang matang selama masa prenatal akan tumbuh berkembang menjadi bayi yang memiliki berat badan, tinggi badan, maupun warna kulit yang normal. Waktu masa kehamilan janin dalam kandungan seorang ibu kurang lebih selama 9 bulan 10 hari. Oleh karena itu bayi-bayi yang lahir dalam keadaan sehat dan normal biasanya memiliki usia yang cukup ketika masih berada dalam kandungan ibunya. Sebaliknya bayi-bayi premature yang memiliki ukuran berat badan rendah (low birth), ukuran badan kecil dan mungkin warna kulit yang agak pucat cenderung berada dalam kandungan kurang dari 9 bulan.
b.      Perilaku Diet Ibu Selama Masa Hamil
Banyak bayi yang cenderung kurus, berat badan rendah, maupun ukuran panjang bayi disebabkan oleh kurangnya memperoleh gizi yang cukup selama masa kehamilan. Para ibu yang melakukan diet selama masa hamil berpengaruh secara signifikan terhadap kurangnya penyerapan konsumsi gizi, protein maupun zat-zat mineral lainnya yang dibutuhkan oleh janin. Akibatnya janin tidak dapat mengalami pertumbuhan dan perkembangan secara normal.
c.       Status Sosial Ekonomi Keluarga
Status ekonomi keluarga berpengaruh secara nyata terhadap pemenuhan kebutuhan gizi bagi seluruh anggota keluarga tersebut. Orangtua yang memiliki status social ekonomi menengah ke atas (middle-high family economic status) cenderung akan dapat mencukupi kebutuhan makanan bergizi yang baik. Hal ini berpengaruh pula terhadap para calon ibu untuk memenuhi kebutuhan gizi yang diperlukandalam proses pertumbuhan dan perkembangan oleh janin dalam kandungannya. Dengan demikian bayi-bayi terlahir pun akan memiliki berat badan, tinggi badan maupun taraf kesehatan yang baik. Sebaliknya para ibu yang berasal dari keluarga yang memiliki status social ekonimi rendah (low family economic status) cenderung kurang dapat mencukupi kebutuhan gizi yang baik untuk janin yang dikandungnya. Akibatnya bayi yang lahir akan memiliki berat badan rendah, dan panjang badan yang pendek. Dalam studi kasus ditemukan bayi-bayi yang lahir dari keluarga miskin cenderung mengalami gizi buruk (poor nutrition) akibatnya menderita gangguan busung lapar.
d.      Urutan Kelahiran
Dalam studi ditemukan bahwa bayi-bayi yang lahir sebagai anak pertama (firstborn infant) cenderung memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil, pendek dan lebih ringan dibandingkan bayi yang lahir sebagai anak kedua atau ketiga dalam suatu keluarga yang sama.
e.       Jarak Kelahiran Bayi dalam Keluarga
Perbedaan jarak kelahiran akan memberi pengaruh terhadap ukuran bayi. Bayi yang lahir dengan jarak yang sangat dekat dengan anak sebelumnya senderung memiliki berat badan yang rendah (low birth). Hal ini terjadi karena kondisi kesehatan ibu yang lemah. Setelah melahirkan anak pertama, fit dan sehat kembali. Tetapi karena tak mampu menjaga jarak kelahiran dengan anak sebelumnya dan harus mengandung janin (bayi) lagi, maka kondisi kesehatan fisik ibu semakin lemah. Dengan demikian bila ibu tersebut mengandung lagi akan menyebabkan kelahiran bayi yang memiliki berat badan rendah.
f.       Aktivitas Janin Masa Prenatal
Janin yang aktif bergerak selama masa prenatal merupakan cirri calon bayi yang sehat dan normal karena energi tubuhnya dapat tersalurkan dengan baik. Dengan gerakan yang aktif akan meningkatkan kekuatan kerja fungsi detak jantung yang baik, kelenturan dan kekuatan otot-otot badan, meningkatkan daya intelektual dan menambah berat badannya. Sebaliknya janin yang malas bergerak, pasif dan banyak tidur cenderung tumbuh berkembang menjadi bayi yang obesitas (gemuk). Dalam pertumbuhan berikutnya, bayi-bayi yang malas bergerak akan menjadi anak yang juga malas bergerak, pasif dan obes (gemuk).

Poskan Komentar