MY BLOG IN YOUTUBE

Loading...

Kamis, 21 Maret 2013

LAPORAN OBSERVASI PENDIDIKAN ABK


A.               Profil Sekolah
Profil Sekolah SD Negeri Manahan Surakarta terdiri dari:
1.      Identitas sekolah:
a.       Nama Sekolah             : SD Negeri Manahan
b.      N.I.S                            : 10004
c.       N.S.S                           : 101036 10 500 4
d.      Daerah                         : Perkotaan
e.       Status Sekolah             : Negeri
f.       Akreditasi                    : B (2,5 th)
g.      Tahun Berdiri              : 1982
h.      Tahun Berubah            : 2005
i.        Kurikulum                   : KTSP
j.        Bangunan Sekolah      : Milik Sendiri
k.      Luas Bangunan           : 2.396
l.        Jarak ke Kecamatan    : 8 Km
m.    Jarak ke Kota              : 8,5 Km

2.      Visi
Terwujudnya sekolah yang unggul dalam prestasi luhur budi pekerti berwawasan lingkungan.

3.      Misi
a.         Pembinaan akhlak siswa sesuai agama masing-masing
b.        Mengembangkan intelektual siswa dengan pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
c.         Berusaha menciptakan suasana yang kondusif agar siswa dapat menerima pelajaran dengan baik sehingga dapat meningkatkan prestasi.
d.        Mengembangkan ketrampilan siswa baik sebagai kegiatan kokulikuler dan ekstrakulikuler.
e.         Mewujudkan warga sekolah yang gemar olah raga dan melestarikan budaya daerah.
f.         Berusaha membina kerjasama antar sekolah dengan masyarakat sehingga merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan

4.      Tujuan
a.       Terwujudnya warga sekolah yang berakhlak mulia.
b.      Meningkatnya kinerja kepala sekolah, guru, karyawan, dan wargasekolah.
c.       Terwujudnya kualitas pembelajaran aktif kreatif  efektif dan menyenangkan.
d.      Terwujudnya peningkatan prestasi dibidang akademik dan non akademik.
e.       Terwujudnya warga sekolah yang sehatb jasmani dan rohani.
f.       Mengembangkan pelestarian budaya daerah.
g.      Terwujudnya ketahanan sekolah yang tangguh.

B.   Identitas Subjek
Nama siswa                             : Stefanus Krisbiantoro
Tempat Tanggal Lahir             : Surakarta, 8 September 2001
Kelas                                       : V B
Jenis Ketunaan                        : Lamban Belajar




A.   Kurikulum
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah. SD N Manahan Surakarta menggunakan kurikulum KTSP. KTSP yang merupakan kepanjangan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan di Indonesia. Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang beragam mengacu pada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional. Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan. Dua dari kedelapan standar nasional pendidikan tersebut, yaitu Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 (UU 20/2003) tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 (PP 19/2005) tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan kurikulum pada KTSP jenjang pendidikan dasar dan menengah disusun oleh satuan pendidikan dengan mengacu kepada SI dan SKL serta berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Selain dari itu, penyusunan KTSP juga harus mengikuti ketentuan lain yang menyangkut kurikulum dalam UU 20/2003 dan PP 19/2005. Panduan yang disusun BSNP terdiri atas dua bagian. Pertama, Panduan Umum yang memuat ketentuan umum pengembangan kurikulum yang dapat diterapkan pada satuan pendidikan dengan mengacu pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang terdapat dalam SI dan SKL. Termasuk dalam ketentuan umum adalah penjabaran amanat dalam UU 20/2003 dan ketentuan PP 19/2005 serta prinsip dan langkah yang harus diacu dalam pengembangan KTSP. Kedua, model KTSP sebagai salah satu contoh hasil akhir pengembangan KTSP dengan mengacu pada SI dan SKL dengan berpedoman pada Panduan Umum yang dikembangkan BSNP.  Sebagai model KTSP, tentu tidak dapat mengakomodasi kebutuhan seluruh daerah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan hendaknya digunakan sebagai referensi.

B.   RPP
Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41  Tahun 2007 tentang standar poses disebutkan bahwa RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai kompetensi dasar. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

SD Negeri Manahan Surakarta menggunakan RPP (Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran) seperti sekolah-sekolah pada umumnya. Namun untuk anak  ABK menggunakan PPI (Program Pelaksanaan Individual). Pembuatan PPI dibuat sesuai dengan kemampuan dan kondisi peserta didik sehingga peserta didik yang mempunyai kebutuhsn khusus dapat mudah menerima pembelajaran dengan baik dan kompetensi dasar dapat tercapai.  Perbedaan antara RPP dan PPI yaitu pada PPI terdapat kondisi awal siswa dan deskripsi  kemampuan anak sekarang. Pada kondisi awal terdapat keterangan tentang nama peserta didik, umur, kelas, sekolah, dan jenis kelainan. Pada deskripsi kemampuan anak sekarang terdiri dari kemampuan social, komunikasi, perilaku, kemandirian, akademik, catatan kesehatan, dan perhatian khusus. Perbedaan juga dapat dilihat dari aspek materi, untuk anak yang berkebetuhan khusus materi yang diberikan lebih spesifik dibandingkan dengan anak normal. KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang diterima anak berkebutuhan khusus berbeda dengan anak yang normal. KKM untuk anak normal lebih tinggi daripada KKM untuk anak yang mempunyai kebutuhan khusus. Anak berkebutuhan khusus bila dapat mencapai KKM anak normal maka anak tersebut termasuk anak yang mempunyai potensi lebih.
·         Contoh PPI dilampirkan

C.   Layanan Pendidikan ABK
Berdasarkan hasil wawancara dengan wali kelas V B SD Negeri Manahan Surakarta, beliau memberikan layanan dalam jenis layanan bimbingan belajar dan layanan konseling perseorangan. Dalam layanan bimbingan belajar yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik mengembangkan diri berkenaan dengan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, materi yang cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya, serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. Sedangkan layanan konseling perseorangan, tujuan dan fungsi layanan konseling perorangan dimaksudkan untuk memungkinkan siswa mendapatkan layanan langsung tatap muka dengan konselor sekolah dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan. Fungsi utama bimbingan yang didukung oleh layanan konseling perorangan adalah fungsi pengentasan.
Layanan bimbingan belajar dan layanan konseling perseorangan yang diberikan Ibu wali kelas V B SD Negeri Manahan Surakarta, seperti :
a.       Pengenalan siswa yang mengalami masalah belajar tentang kemampuan diri. Pada saat memberikan bimbingan setelah pulang sekolah memberitahu kepada Stefanus bahwa mereka itu tertinggal dari teman-temannya yang lain, sehingga harus mengejar ketertinggalan itu, ini berhubungan dengan pemberian motivasi.
b.      Pengembangan motivasi, sikap, dan kebiasaan belajar yang baik. Dengan memberitahukan kepada Stefanus tentang kebiasaan belajar serta sikap belajar yang baik. Bahwa belajar itu harus sungguh-sungguh, dan bertahap dari yang tadinya tidak bisa menjadi bisa
c.       Pengajaran perbaikan. Pengajaran perbaikan yang diberikan di dalam kelas untuk Stefanus yakni mendekati Stefanus, karena dia duduknya di belakang sendiri, serta membimbing Stefanus apabila ia tertinggal dari teman-temannya.
d.      Kegiatan bimbingan di rumah. Dilakukan dengan memberikan tugas rumah kepada Stefanus untuk mempelajari buku pelajaran dengan bimbingan dan pengawasan dari orang tua Stefanus.Dan setelah di sekolah mengecek perkembangan Stefanus dari tugas yang telah diberikan.


Berkebutuhan khusus ditujukan pada anak yang memiliki kelainan atau perbedaan sedemikian rupa dari anak rata-rata normal dalam segi fisik, mental, emosi, sosial atau gabungan dari ciri-ciri itu dan menyebabkan mereka mengalami hambatan untuk mencapai perkembangan optimal sehingga mereka memerlukan layanan khusus untuk mencapai perkembangan yang optimal. Anak yang berkebutuhan khusus berkesempatan memperoleh pendidikan yang sama seperti anak yang normal. SD Negeri Manahan Surakarta merupakan sekolah umum yang memberikan kesempatan yang sama terhadap semua anak yang ingin belajar disana, dengan begitu bisa disebut SD Negeri Manahan Surakarta merupakan salah satu pelopor sekolah inklusi di kota Solo.
Stefanus Krisbiantoro meupakan salah satu anak berkebutuhan khusus yang bersekolah di SD Negeri Manahan Surakarta. Ia berasal dari keluarga yang berlatar balakang ekonomi kurang mampu dan kurang sadar akan arti pendidikan. Ia menderita low vision, bibir sumping dan lamban dalam belajar. Anak yang lamban belajar adalah anak yang meraih prestasi belajar lebih rendah dari kemampuan kecerdasannya, terutama dalam bidang membaca, menulis dan berhitung.
Setelah kami melakukan observasi terhadap Stefanus, kami dapat mengetahui bahwa pada saat proses pembelajaran berlangsung ia cenderung diam dan memperhatikan, tetapi pandangannya kosong. Hal ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan kognitifnya. Menurut Sylvia Farnham Diggory (1994) menjelaskan yang disebut anak berkesulitan belajar adalah anak yang mengalami penyimpangan pada proses psikologis dasar sehingga anak mengalami kesulitan di dalam menjelaskan, menggunakan kata-kata atau menulis. Manifestasi dari penyimpangan ini dapat berupa kesulitan dalam mendengarkan, berfikir, membaca, menulis, mengeja dan menghitung. Ini terlihat pada Stefanus, karena ia juga menderita bibir sumping, maka ketika ia mendengar sesuatu, ia melefalkannya dan ia menulisnya akan berbeda. Tulisannya pun menjadi kacau dan masih belum rapi. Selain itu ia juga berkesulitan dalam membaca dan menghitung.
Menurut Derek W, dkk (2007:24) jenis-jenis kesulitan belajar dibagi menjadi tiga kategori besar, yaitu:
1.      Kesulitan Dalam Berbicara dan Membaca
Kesulitan ini sering menjadi indikasi awal bagi kesulitan belajar yang dialami oleh seorang anak. Kesulitan jenis ini juga menemui kesulitan dalam menghasilkan bunyi-bunyi bahasa yang tepat, berkomunikasi dengan orang lain melalui penggunaan bahasa yang benar atau memahami apa yang orang lain katakan.
2.      Gangguan Kemampuan Akademik
Seseorang dapat didiagnosa mengalami gangguan ini, bila mengalami keterlambaan dalam hal membaca, keterlambatan dalam hal menulis, keterlambatan dalam hal menghitung.
3.      Gangguan Belajar Lainnya
DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disosder) juga mencatat kategori tambahan seperti gangguan kemampuan motorik dan gangguan perkembangan khusus yang belum diklasifikasikan. Gejala-gejalanya adalah keterlambatan atau keterbelakangan dalam memahami bahasa, kemampuan akademis, motorik serta gangguan tubuh dapat mengakibatkan buruknya tulisan seseorang, dan kesulitan mengeja serta mengingat.
Senada dengan hal diatas Ike menuturkan ada beberapa ciri yang menunjukkan anak mengalami lambat belajar:
1.      Nilai pelajaran yang naik turun
2.      Sulit mengatur kegiatan atau barang
3.      Mudah lupa
4.      Sering kehilangan barang-barang
5.      Sering melamun
6.      Ceroboh dan tidak teliti
7.      Tidak termotivasi untuk belajar
8.      Mudah menyerah
9.      Sulit duduk tenang untuk jangka waktu yang lama
10.  Banyak berbicara
11.  Sulit menunggu giliran
12.  Suka jail, iseng dan impulsif
Sebenarnya anak dengan lamban belajar bukanlah indicator dari rendahnya intelegensi anak. Anak dengan lamban belajar terkadang sulit untuk mencapai tingkat intelektual sesungguhnya karena kelemahan dalam satu atau lebih proses informasi otak (Samino dan Marsudi: 81-82). Anak yang lamban belajar memiliki IQ normal atau bahkan di atas normal. Ini terlihat pada Stefanus yang memiliki IQ normal.
Sedangkan untuk perkembangan sosial emosional dan kepribadian Stefanus masih kurang. Tidak jarang ia terlihat malas dalam mengikuti proses pembelajaran, cenderung menolak tugas dari guru, sering membuat kegaduhan, ramai sendiri, sulit diatur, dan sulit untuk memusatkan konsentrasi ketika proses pembelajaran berlangsung.
Penyebab Stefanus lamban belajar yang dapat kami simpulkan adalah:
1.      Masalah organisasi berfikir
Stefanus mengalami kesulitan dalam menerima penjelasan tentang dunia luas, ia tidak mampu berfikir secara normal. Misalnya ia berkesulitan dalam membaca sehimgga ia sulit untuk menyimpulkan isi bacaan tersebut.
2.      Kekurangan gizi
Stefanus berasal dari keluarga kurang mampu, ia kurang mendapat asupan gizi yang cukup di masa pertumbuhannya, keadaan ini akan sangat berpengaruh terhadap syaraf otaknya dan tentunya membawa dampak yang kurang baik terhadap proses belajarnya.


Upaya penanganan yang dilakukan SD Negeri Manahan Surakarta terhadap Stefanus:
1.      Wali kelas Stefanus yang bernama Bu Ida selalu memberi perhatian khusus terhadap Stefanus. Jika ia terlihat bersikap aneh di dalam kelas, beliau selalu tanggap dan mencari sebab mengapa ia bersikap seperti itu. Beliau juga memberi jam-jam tambahan khusus untuk mengembangkan kognitif stefanus. Beliau juga membuat target agar semua kompetensi dasar dapat tercapai.
2.      Dari pihak sekolah sudah memberi buku penghubung yaitu berupa buku berisi pencapaian hasil belajar siswa untuk diberikan dan ditandatangani orang tua siswa dengan tujuan segala aktifitas siswa di sekolah bisa terpantau. Namun orang tua Stefanus kurang tanggap terhadap hal tersebut. Mereka beranggapan setelah berada di sekolah segala aktifitas anaknya menjadi tanggung jawab sepenuhnya pihak sekolah. Mereka acuh tak acuh terhadap hasil pencapaian anaknya dengan tidak mau menandatangani hasil pencapaian anaknya, dengan kata lain orang tua Stefanus kurang sadar akan makna pendidikan. Hal ini menjadi PR bagi wali kelas Stefanus agar orang tua Stefanus bisa sadar akan pendidikan dan bisa membantu dalam proses belajar Stefanus.


A.   Kesimpulan
Berkebutuhan khusus ditujukan pada anak yang memiliki kelainan atau perbedaan sedemikian rupa dari anak rata-rata normal dalam segi fisik, mental, emosi, sosial atau gabungan dari ciri-ciri itu dan menyebabkan mereka mengalami hambatan untuk mencapai perkembangan optimal sehingga mereka memerlukan layanan khusus untuk mencapai perkembangan yang optimal. Anak yang berkebutuhan khusus berkesempatan memperoleh pendidikan yang sama seperti anak yang normal. SD Negeri Manahan Surakarta merupakan sekolah umum yang memberikan kesempatan yang sama terhadap semua anak yang ingin belajar disana, dengan begitu bisa disebut SD Negeri Manahan Surakarta merupakan salah satu pelopor sekolah inklusi di kota Solo.
Kesimpulan observasi terhadap anak lambat belajar di SD Negeri Manahan yaitu anak berkesulitan belajar adalah anak yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi yang sama. Anak dengan lamban belajar bukanlah indikator dari rendahnya intelegensi anak, anak yang lamban belajar memiliki IQ normal atau bahkan di atas normal. Ciri-ciri anak yang mengalami lamban belajar meliputi menunjukkan hasil belajar yang rendah, hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan, lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajar, menunjukkan sikap-sikap yang kurang wajar, menunjukkan tingkah laku yang berkelainan, menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar. Oleh sebab itu SD Negeri Manahan Surakarta menggunakan RPP khusus bagi anak yang berkebutuhan khusus  berupa PPI. Pembuatan PPI dibuat sesuai dengan kemampuan dan kondisi peserta didik sehingga peserta didik yang mempunyai kebutuhsn khusus dapat mudah menerima pembelajaran dengan baik dan kompetensi dasar dapat tercapai.
B.   Saran
Setelah membaca laporan observasi di SD Negeri Manahan Surakarta, diharapkan para pembaca dapat memiliki pengetahuan tentang anak berkebutuhan khusus berupa lamban belajar. Anak yang lamban belajar bukanlah anak yang bodoh, mereka sebenarnya memiliki potensi yang sama untuk dikembangkan, hanya saja waktu yang dibutuhkan dalam mencerna informasi otak agak lamban. Oleh sebab itu, para orang tua, guru dan teman-teman  upaya selalu memberi motivasi agar anak yang lamban belajar selalu berusaha meraih yang terbaik. Jangan malah mencemooh dan menjauhi mereka.



DAFTAR PUSTAKA

Derek W, dkk. 2007. Kiat Mengatasi Gangguan Belajar. Jogjakarta: Katahati.

Ike. 2011 .Kesulitan Belajar Anak Bukan Penyakit, Kenali Ciri- cirinya. (http://krismankpo.blogspot.com/2011/04/Kesulitan_Belajar_Anak_Bukan_Penyakit.html. diakses pada tanggal 26 Desember 2012 pukul 14.23)

PerMenDiknas. 2007. Standar Proses. Jakarta: BNSP

Samino dan Marsudi, S. 2011. Layanan Bimbingan Belajar. Surakarta: Fairuz Media.

Sunaryo I, dan Surtikanti. 2011. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus (Inklusif). Surakarta: UMS

http://id.wikipedia.org/wiki/Kurikulum_Tingkat_Satuan_Pendidikan (diakses pada 26 Desember 2012 pukul 14.34)
Poskan Komentar